"Hujan!"
"Hujan!"
"Hari ini hujan!"
Niar, gadis kecil berkepang dua itu berlari riang ke halaman rumahnya, dengan segera dia melepas semua yang melekat di tubuhnya, dengan riang dan ceria dia menari sejadi-jadinya, dia tidak perduli akan omelan ibunya yang sering kali memarahi dia, dia hanya menjawab, " tidak mengapa bu,hanya menyapa teman",selalu begitu ia jawab kalau ibunya mulai mengomel.
Niar, gadis kecil berkepang dua itu menari sejadi jadinya dan makin menikmati tiap tetesan hujan, baginya hujan adalah teman akrabnya, niar selalu merindukan saat-saat kedatangan hujan ini, "sudah terlalu lama aku menunggu mu teman", terkadang dia berbicara dengan hujan, baginya dia lebih tahu tentang hujan di banding orang lain, terkadang dia berhalusinasi dia ikut menyerap ke dalam tanah bersama hujan, ikut terserap akar tumbuh-tumbuhan bersama hujan, niar sangat mencintai "teman akrabnya" ini, dia selalu tidak perduli akan nasihat ibunya yang mengingatkan dia akan demam kalau terlalu lama bermain hujan, bagi dia hujan tidak akan membuat sakit dia, bukankah teman akrab tidak akan membuat sakit temannya sendiri?
Niar, gadis kecil berkepang dua itu menatap jauh ke depan di jendela kamarnya, sudah dua minggu ini dia tidak mendapat kabar dari "teman akrabnya" itu, sudah dua minggu ini niar sangat merindukannya, akankah dia datang hari ini?atau esok?atau lusa?atau dua minggu lagi dia harus menunggu?tanpa dia sadari niar menciptakan hujan kecil di pelupuk matanya yang mungil, jatuh di pipinya yang gemuk dan merah, sudah dua minggu ini dia kesepian, baginya, tidak dapat yang bisa menggantikan temannya itu, tanpa disadari niar tertidur di jendela kamarnya.
Malam hari sudah menjemput, niar terbangun oleh aroma yang ia kenal, niar terbangun oleh rasa yang ia kenal, niar terbangun oleh suara yang ia kenal.
"Itu hujan!"
"Itu hujan!"
"hujan!"
"Hujan!"
"akhirnya kau datang juga teman!aku sudah terlalu lama menantikanmu!"
niar melompat dari jendela kamarnya dengan sejadi-jadinya, ia menanggalkan semua busana yang melekat padanya lalu mulai menari sejadi-jadinya, ia tidak perdulu akan omelan ibunya pada malam hari ini, dia sudah begitu merindukan hujan.